Film dan Buku Rectoverso

hallooo…

Ehm..how much i love this book (RectoVerso by Dee). Tapi, apakah saya bisa bilang hal yang sama dengan Filmnya? hmm…mari saya berkisah *ceilah…

Diawali pada suatu hari, saya sedang sakit ceritanya, tapi nekat pergi ke sebuah toko buku untuk membeli buku kumpulan cerpen karangan Dewi Lestari. Sudah kepingiiin banget sih buat punya buku ituu. Malemnya saya baca itu buku dengan sedikit demi sedikit (takut habisnya cepet hehehe…). tess…tesss…mulai lah saya menangis pada cerpen pertama yang berjudul “Curhat Sahabat”, seseorang memiliki alasan menangis pastilah disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya karena cerita tersebut dekat sekali dengan cerita yang saya punyai :’)) (saya akan buat tulisan tentang kesan saya pada cerpen ini di kertas lain, ok?).

Lanjut membaca satu persatu cerpen yang ada dalam buku bercover hitam ini. Cerita-cerita lainnya tidak kalah menyentuh. Namun, tidak pada setiap judul saya meneteskan air mata. Jagoan saya dalam buku ini adalah; Curhat Sahabat, Firasat, dan Hanya Isyarat. Tapiii, kesemuanya baguuuuuus!! sungguh! :))

Dee itu tipikal penulis yang sederhana dalam berkisah, ide-ide storynya juga teramat biasa dan keseharian. Namun, terkadang hal yang keseharian itu seringkali luput dari perhatian kita. Jadi, ketika kita membaca cerpen-cerpen disini seolah kita disuruh memilih: “manakah cerita yang lebih dekat dengan ceritamu?”-

Nilai plus nya, cerpen-cerpen disini juga memiliki backsong. Jadi, ada lagu dengan judul yang sama dengan judul cerpen yang menghadirkan suasana liris dari isi cerita. Semisal lagu yang sudah kita kenal dengan Judul “Peluk” yang dinyanyikan Dee feat Aqi Alexa, atau lagu “Malaikat Juga Tahu” yang booming, dll. Jadi, alangkah sempurnanya kalau membaca buku ini sembari mendengarkan lagunya (y).

Betapa saya jatuh cintanya dengan buku ini. Memutuskan saya langsung segera ingin menonton filmnya. Ditemani dengan seorang teman pria saya (^^), saya menonton pada tanggal 16 Februari, 2hari setelah rilis perdana filmnya. OOOoooo ternyata filmnya tidak memberikan saya efek yang sama ketika saya membaca kata perkata, kalimat per kalimat dalam buku ini. Serasa ada yang missing…

Filmnya ini memang berdasarkan 5 dari 10 judul cerpen yang ada. Dan setiap bagian disutradarai oleh orang yang berbeda. Membuat film ini menjadi memiliki sekat-sekat dan terkesan datar dalam penyampaian maksud. Saya mengacungkan jempol untuk ost Malaikat Juga Tahu yang diaransemen ulang oleh Glenn Fredly yang olehnya lagu ini membuat nyawa lain pada film yang tidak cukup lama ditayang pada bioskop-bioskop Indonesia.

Memang Film dan Buku adalah dua seni yang berbeda, terkadang kita sebagai penikmat seni memang diharuskan melepaskan kenangan kita terhadap masing2 media tsb.

Intinya, baik buku or film, sama-sama menyampaikan misi “cinta tak terucap” yang seringkali terjadi pada manusia. Cinta memang ada batasnya, batas dimana kita sanggup atau tidak menyatakan kepada seseorang yang kita sayangi.

Okee sampai disini dulu cerita saya yah tentang buku cantik ini🙂

Image

ily

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s