Kesedihan yang Eksis

Lagi blogwalking nih, tiba-tiba nemu sebuah kutipan. Kutipan yang baguuuus banget.

“The only way I could feel this sad now is if I felt something really good before, so I have to take the bad with the good. So I guess what I’m feeling is like a ‘beautiful sadness.’”

(“Satu-satunya alasan aku bisa sesedih ini adalah jika aku merasakan sesuatu yang begitu baik sebelumnya, jadi aku harus membandingkan yang buruk dengan yang baik. Jadi kurasa apa yang kurasakan ini seperti ‘kesedihan yang indah.’”)

~Butters

dari sebuah serial televisi kartun dewasa berjudul South Park.

Kalian tahu traffic light atau yg suka disebut lampu merah? yep, yang urutan warnanya merah, kuning, dan hijau. Tahukah bahwa sebuah warna MERAH disitu bukan berarti “berani” seperti warna merah yang ada pada bendera kebanggaan kita, bendera Indonesia. Warna merah di traffic light bermakna “stop” yang artinya diharuskan berhenti untuk kendaraan. Kenapa maknanya bisa beda? padahal satu warna lho? sama-sama warna merah. Ya bisa dong ^^jawabannya sangatlah mudah. Warna merah bermakna “stop/berhenti” bisa bermakna seperti itu jika disandingkan dengan warna lainnya yakni kuning dan hijau. Warna merah “berani” baru dapat bermakna seperti itu jika ia disandingkan dengan warna putih yang bermakna “suci”. Jika warna merah berdiri sendiri, bisa jadi ia tidak bermakna alias ia tidak eksis. Jadi pada intinya, eksistensi pada sesuatu itu memerlukan sesuatu lainnya guna sebagai penyanding.

Demikian terkait dengan kutipan di atas. Sebuah “kesedihan”, baru akan eksis ketika kita sebagai manusia pernah merasakan terlebih dahulu apa itu “kebahagiaan”. Kita sedih karena kita pernah benar-benar bahagia sebelumnya. Kita sedih saat merasa kehilangan, karena kita pernah memiliki sebelumnya.

Jika kita mengalami patah hati, kehilangan seseorang yang kita sayangi, lalu bersedih berlarut-larut. Coba direnungkan, apa kita disaat bersamanya benar-benar bahagia? Apa kita benar-benar pernah memilikinya? bukan memiliki sekedar memiliki, tetapi memiliki yang sejati. Atau sejak awal memang kita tidak benar-benar memiliki dia? atau tidak benar-benar bahagia ketika bersama dia? atau ada hal yang lebih membahagiakan ketimbang kebersamaan kalian selama ini. Jika jawaban-jawaban barusan iya, maka buat apa kita masih bersedih? bersedih yang berlarut-larut.

Buat apa kita merasa kehilangan dia, jika ternyata kita tidak pernah benar-benar memilikinya? Namun, jika kita benar-benar mencintainya secara tulus, maka dia lah yang seharusnya merasa KEHILANGAN! Ya, dia lah yang sesungguhnya kehilangan orang yang mencintai dia secara tulus. Dia yang kehilangan, bukanlah kita. Dia kehilangan orang yang mencintai dia…

Dengan begitu, jika sesuatu buruk menimpa maka ingatlah kebahagiaan yang pernah ada. Penuhi hati dengan rasa syukur yang tinggi bahwa masih ada hal baik di samping yang buruk.

with love,

ily~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s