Just like ‘fate’

Sedang ingin menuangkan apa yang ada di kepala saya ke dalam bentuk tulisan.

Tadi siang ada seseorang yang bukan dalam kata-katanya cenderung meremehkan sebuah kata ‘fate’. Seseorang ini pastilah jauh dari dunia saya yang malah amat mencintai sekali kata ‘fate’ melebihi kata-kata lainnya di dunia ini. Saya tidak memprotes atasnya, saya lebih suka menulis dalam bentuk kesukaan maupun ketidaksukaan saya terhadap seseorang atau sesuatu. Bukan berarti menulis adalah sebuah kegiatan pasif. Menulis adalah bahasa lain dari “aku tidak butuh pendengar” dalam mendawaikan pikiranku.

Benarkah kata ‘fate’ mengandung nilai kepasrahan didalamnya?

Berikut uraiannya dalam suatu sudut pandang.

 

Bertemu, jatuh cinta, saling mencintai, perpisahan adalah berbagai contoh dimana kata ‘fate’ senantiasa menyertai.

Seringkali ada pertanyaan kenapa ya bisa bertemu dengan seseorang itu? kenapa mencintai dia? atau kenapa bisa sampai berpisah dengannya? Namun, adakah benar-benar ada jawaban yang tepat dari sederetan pertanyaan tersebut?

Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. (Dikutip dari Dee Lestari di dalam personal blognya).

Berbicara mengenai sebuah perpisahan seperti kutipan di atas maka saya akan coba mengambil contoh ‘fate’ dalam sebuah perpisahan. Segelontor pertanyaan biasanya membombardir kepala kita pasca sebuah perpisahan kita alami. Bukan saja dari orang sekitar melainkan dari nurani kita pun biasanya bertanya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada. (Dilansir dari Blog Dee Lestari).

 

Saya sangat amat setuju dengan apa yang Dewi Lestari jabarkan tentang pemikirannya mengenai perpisahan. Bahwasanya perpisahan terjadi karena ‘sudah habis masanya’. Bukan persoalan tidak lagi mencintai atau masih mencintai. Bukan MERELAKAN melainkan MENERIMA INILAH ADANYA. Saya juga dimengertikan bahwa inilah yang bisa saja terjadi untuk siapa saja yang sedang berusaha Move On. Selama ini pengertian move on disangkut pautkan dengan merelakan atau melepaskan. Tetapi, dengan konsep yang senada dengan Dewi Lestari saya percaya diri bahwa move on itu adalah menerima inilah adanya, sudah habis masanya bersama dengan bayang-bayang seseorang di masa lalu (bisa mantan, bisa siapa saja, bisa kerjaan lama, bisa film yang bikin gak bisa move on, intinya apa saja yang membuat kita seolah tak lagi berjalan dalam dinamika). Periode kita bersama dengan yang telah lalu harus diselesaikan dengan cara kita menerima dengan hati yang lapang.

Saya juga harus memaafkan diri saya atas masa yang telah lalu sampai masa kini saya berhenti (karena kadaluarsa). Memaafkan dengan kesadaran penuh bahwa saya memilih melanjutkan berjalan semata-mata karena saya ingin bahagia. Beranjak dari sini saya juga menjadi tahu bahwa saat kita bertemu dengan seseorang adalah takdir, dan kalaupun setelahnya kita berpisah maka itu juga adalah takdir sesaat sepersekian lama setelah pilihan dari tangan kita terlebih dahulu berjuang.

Jadi kalau fate diartikan pesimis atau hopeless, dengan yakin saya tidak setuju. Jauh sebelum sesuatu disebut ‘fate’ ada perjuangan didalamnya, ada mencoba didalamnya, ada berusaha didalamnya. Titik dimana fate itu lahir bersamaan dengan penerimaan kita terhadap sesuatu, cara menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Itu saja menurut saya🙂 Terimakasih Dewi Lestari yang selalu punya pemikiran untuk saya jatuh cintai, untuk saya renungkan❤

 

Maha Besar Allah sang sutradara pemilik kehidupan…

Destiny is something we choose to go after…. Fate is something that happens to us, and seemingly takes away our choices, but in fact actually leads us back towards the choice of Destiny we already made before we were born

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s