Satu Yang Tak Bisa Lepas

Ceritanya habis nonton film Hijab karya Hanung Bramantyo yang tak lain tak bukan suami dari my role model Zaskia Adya Mecca :* . Filmnya cukup menghibur dengan sajian jokes-jokes yang mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat, mulai dari dialog antar tokoh maupun mimik-mimik lucu dari para pemainnya. Memang casts film ini kece-kece sih ya, mulai dari Zaskia sendiri sebagai Sari, terus ada Tika Bravani, ada Carissa Puteri, Ananda Omesh, dll. Selain lucu, film Hijab ini memang murni banget refleksi dari fenomena yang ada di negeri kita saat ini, apalagi kalau bukan soal HIJAB! Hijab memang sudah jadi trend tersendiri di kalangan kaum hawa, bak jamur yang mewabah diiringi dengan lahirnya desainer-desainer muda yang berkarya menghasilkan fashion hijab. Well, dari nonton ini film ini sih saya menarik garis besar bahwa pertanyaan yang coba dilontarkan dalam film ini adalah “Apa sih alasan loe berhijab, girls?” Dengan mewakilkan 4 tokoh perempuan, film ini mencoba menceritakan masing-masing alasan dan kisah mereka mengenakan berhijab. Intinya sih, hijab itu adalah sebuah proses seorang perempuan yang bisa jadi mulai dari “terjebak” untuk menggunakannya (Seperti beberapa tokoh yang ada dalam film) sampai akhirnya benar-benar berhijab karena “pilihan”. Yes, PILIHAN. Mau bagaimanapun terjebaknya untuk memakai hijab, itu semua berbalik lagi dengan pilihan diri kita sendiri. Dan, saya pun menjadi terbang ke tahun 2007, tahun dimana saya pertama kali memutuskan untuk berhijab.

Apa alasan saya waktu itu?

Jadi waktu itu saya baru saja keterima di sebuah Universitas Negeri di ibu kota, pertama kali masuk saya berkenalan dengan seorang wanita berhijab dan saya dipinjamkan sebuah novel berjudul Ayat-Ayat Cinta (gak asing kan?! hehe). Ketika saya baca novel itu, entah kenapa hati saya bergetar dan muncul keinginan berhijab karena tokoh Fahri! Ya, tokoh di dalam cerita yang digambarkan sebagai lelaki sholeh, baik, taat beragama. Saya jatuh cinta sekali dengan tokoh itu, dan pikir saya adalah “saya ingin punya suami kelak seperti si Fahri”. Lalu saya mikir sederhana, “Kalau saya ingin mendapatkan lelaki seperti Fahri maka saya harus benahi diri saya dong? masa ada Fahri yang mau dengan perempuan baju seksi tanpa pakai hijab?”. Karena memang tokoh yang dipilih Fahri adalah Aisyah yang menggunakan hijab. Hehe, jika diingat memang lucu hanya karena baca novel lalu jatuh hati sama tokoh utamanya ngebuat saya jadi pingin jilbaban. Ya, tapi namanya juga hidayah ya, alhamdulillah.

Dan hingga detik ini pun saya tidak pernah melepaskan hijab dari jati diri saya🙂

Oke, balik ke film Hijab. Selain ceritanya yang menyentuh sekaligus menghibur, saya juga terkesan dengan salah satu soundtrack di film Hijab ini. Lagu lama sih, yang dulu pernah dibawakan oleh Reza Artamevia. Yap! judulnya Satu yang Tak Bisa Lepas. Di film ini dibawakan oleh Andien, jadi lebih sendu-sendu gimana gitu. Sukaaa deh pokoknya.

Ini nih videonya

Satu Yang Tak Bisa Lepas

Kusimpan masa demi masa
tak mudah ‘tuk terlupa
saat kau masih di sisi
hingga saat kau dengannya
kadang ku menangis

Tataplah diriku di sini
masih seperti yang dulu
kuingin kaupun kembali
‘tuk bersamaku lagi
akupun mengerti

Satu yang tak bisa lepas
percayalah… hanya kau
yang mampu mencuri hatiku
akupun tak mengerti

satu yang tak bisa lepas
bawalah kembali jiwa yang luka
dan perasaan yang lemah ini
menyentuh sendiriku

Meski hatikupun mengerti
masih ada satu asa
kucoba ‘tuk melawan
angkuhnya hasrat hati.

Lagunya sukses buat saya menangis :’)

Mengenai seorang yang harus terpisah dengan seorang lainnya yang ia kasihi. Apapun alasan sebuah perpisahan, yang tersisakan hanyalah pertanyaan yang tidak mudah terjawab. Pernah ia berpikir untuk mundur dari ketidakmustahilan hubungan yang sedang ia bina tersebut, namun ia memilih bertahan. Karena cinta ia bisa bertahan meski ketidakpastian mengikutinya selalu. Namun, pilihannya tersebut pada akhirnya menghantarkan ia untuk dilepas oleh seseorang yang ia pilih untuk bertahan…

Katanya, tingkat tertinggi dalam mencintai adalah merelakan ia bahagia meski bukan bersama kita. Lagu ini menyampaikan sekali perasaan kehilangan tersebut, bagaimana ia telah rela namun dalam kesendirian ia masih punyai asa untuk bisa kembali, walau di satu sisi ia tahu itu mustahil. Ia tak pernah benar-benar melepas semuanya, karena jika suatu saat ada jalan untuk kembali “Satu yang tak bisa lepas” itu masih bisa menuntun, menemukan, kembali pada pilihannya

Ya terkadang memang ada satu yang tak pernah bisa lepas walau waktu bergulir. Seperti hijab di kepala saya ini, tak akan bisa lepas apapun yang terjadi, sesulit apapun, tak akan saya lepas🙂

Good nite

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s